Mengetahui Posisi

Setiap orang sangat perlu mengetahui posisinya di dunia untuk apa dan tau bagaimana diri sendiri dan orang lain memperlakukan diri kita. Sering kali orang bertanya pada diri sendiri mengapa orang lain memperlakukan saya sedemikian rupa? Jadi, diri ini selalu menempati posisi sebagai korban tanpa mau berusaha untuk mengetahui lebih lanjut siapakah diri saya yang sebenarnya. Pertanyaan tentang siapakah saya? Mengapa saya dilahirkan? Mengapa saya ada di dunia? Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang harus dicari dan ada jawabannya. Namun, sering kali pertanyaan itu dilarang dilontarkan karena dinilai sebagai pertanyaan yang menunjukkan kurangnya rasa syukur. Mungkin sebagian orang mengkhawatirkan jika pertanyaan tersebut terus dilontarkan dan memenuhi isi kepala akan berujung pada atheis. Tentunya pertanyaan tentang identitas diri ini perlu didampingi dengan pemahaman agama yang cukup baik, ketika ingin mengetahui identitas diri maka dekatkanlah pada yang meciptakan kita. Ibadah bukan hanya sebagai rutinitas semata namun sebagai ajang peningkatan spiritualitas dan memperkokoh akan maksud dan tujuan setiap individu ada di dunia.

Sebagai generasi Milenial (kelahiran 1981-1994), saya tidak bisa membayangkan bagaimana sporadisnya apabila setiap orang mengerjakan apapun dan tidak berfokus pada satu hal. “Udah asal kamu kerja keras, kamu pasti bisa, kamunya aja yang malas” saya buat perumpamaannya seperti ini : ikan dilatih sebagaimana pun dan dipaksa sampai kapanpun untuk berlari dia tidak akan bisa berlari kencang layaknya seekor kuda, begitu juga sebaliknya, bahwa setiap makhluk termasuk manusia sudah ada porsinya masing-masing. Saya jelaskan lagi ya, masih berkaitan juga dengan identitas diri, bahwa dalam kehidupan ini ada tiga tipe manusia sesuai posisinya dengan orang lain (bukan sesuai pekerjaan/jabatannya ya), pertama senang berada di atas orang lain (tipe pemimpin), kedua berada sejajar dengan orang lain, dan ketiga berada di bawah orang lain (tipe melayani). Maka bisa dibayangkan apabila tipe ketiga sebagai seorang pemimpin? Apakah akan berjalan dengan baik perusahaan/organisasi tersebut? Belum bisa membayangkan? Kenapa kok Nis kamu jadi terkesan underestimate sama orang? Kan itu semua bisa dilatih asal mau usaha, kenapa nyerah duluan? Saya sudah katakan bahwa setiap orang sudah punya porsinya masing-masing. Sebagai generasi Millenial pasti kata-kata saya akan banyak mendapat pertentangan oleh generasi Baby Boomer (kelahiran 1946-1964) atau Generasi X (kelahiran 1965-1980). Ketika pelatihan kepemimpinan dilaksanakan, apakah semua orang di acara pelatihan tersebut akan menjadi pemimpin? Tentu saja tidak, teori memang didapatkan tapi faktanya di lapangan hanya orang-orang tipe pertamalah yang akan excited dalam menerapkan ilmu tersebut. Saya sadar bahwa saya adalah orang tipe kedua dan telah mencoba sekian kali menjadi orang tipe pertama tapi tetap saja saya adalah orang tipe kedua.

Mengetahui posisi ini cukup dan bahkan sangat penting. Jika sudah mengetahui posisi diri, maka alangkah lebih baiknya kita menempatkan diri kita sesuai dengan porsinya, sesuai dengan yang Allah sudah berikan. Terutama kaum Baby Boomer mungkin akan berpendapat bahwa pernyataan ini adalah pernyataan yang memanjakan seseorang dan membuat orang tidak keluar dari zona nyamannya. Saya mau mengajak para pembaca untuk dapat membedakan keluar dari zona nyaman dengan membunuh diri sendiri? Beda kan? “Lakukan hal yang beda dong, jangan mau di zona nyaman aja” . Saya akan menceritakan dalam bentuk sebuah kasus agar lebih dimengerti, misal seseorang yang sebenarnya memiliki bakat-bakat yang menjurus kepada perannya sebagai seorang pebisnis, tapi dia tidak kunjung bergerak untuk memulai bisnisnya dan memilih bekerja dulu karena pendapatan tetap, inilah yang saya katakan zona nyaman. Namun, ketika orang tersebut berani mengambil langkah menciptakan start up miliknya sendiri dengan konsekuensi mengalami berbagai kegagalan dan pendapatan tidak tentu tiap bulannya, perlu memikirkan gaji karyawan, produksi, pemasaran dlsb inilah yang disebut keluar dari zona nyaman. Berbeda hal dengan kasus apabila semestinya perannya sebagai pebisnis namun ia mencoba menceburkan diri sebagai seorang saintis, inilah yang saya sebut membunuh karakter diri. Begitu juga dengan orang tipe ketiga yang tipenya sangat senang melayani/membantu orang, apabila ditempatkan posisinya sebagai pemimpin, maka bisa dibayangkan orang tipe ini akan menghandle kerjaan-kerjaan bahkan kerjaan karyawannya, sehingga karyawannya mungkin terkesan tidak bekerja, dan di kemudian hari pemimpin tipe ini akan mengeluhkan bahwa tidak ada karyawannya yang membantunya, sehingga berdampak pada kurangnya pemasukan perusahaan karena tidak bisa menyatukan potensi karyawan, dalam kasus ini siapakah sebenarnya yang dzalim? Apakah pemimpin (tipe orang ketiga) ? ataukah karyawannya? Jika kita mau berpikir panjang sedikit saja, apabila diri kita salah menempati posisi kita maka kemungkinan untuk mendzalimi seseorang akan semakin besar, ini bukanlah sebuah rumus saklek, tapi bisa menjadi sebuah bahan perenungan.

Sebagai orang yang senang berpikir jauh ke depan (dan seringkali dibilang kejauhan) mengetahui posisi ini dapat berdampak baik pada keluarga dan hubungan rumah tangga. Bayangkan apabila seorang istri atau suami yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya, bisa dipastikan setiap pulang ke rumah hanya akan ada keluhan keluhan dan keluhan sepanjang waktu. Pertanyaannya adalah sampai kapan mau mengeluh ? Kapan mau bangkit? Bukan berarti saya melarang pasangan saya kelak untuk mengeluh, tapi jika orang yang menjalankan suatu peran tidak sesuai porsinya maka beban akan terasa berat dengan energi yang dibutuhkan juga besar. Lalu kapankah akan memikirkan keluarga? Kapan punya waktu dengan keluarga? Kapan mendiskusikan pola asuh yang baik untuk anak? Jika sehari-harinya hanya disibukkan dengan melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kapasitasnya (lagi-lagi di sini saya tidak menyuruh orang untuk manja dan silakan baca penjelasan saya sebelumnya).

Betapa majunya bangsa kita kelak apabila sumber daya manusia yang ada ditempatkan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing dan PR nya adalah sistem pendidikan di Indonesia tidak cukup mempersilakan setiap orang melakukan perenungan dan pencarian diri dan cenderung mengikuti ritme yang ada.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s