Persiapan Untuk Kehilangan

Rapuh dan lemah seakan melekat dalam jiwa, tak bisa diusir kata-kata itu di telinga. Suara itu terus berbisik dan semakin nyaring bila kau tanggapi. Apakah kau benar rapuh dan lemah? Atau kau hanya pura-pura rapuh dan lemah? Atau kau hanya berkutat pada pemikiran dirimu sendiri akan penilaian orang lain bahwa kau rapuh dan lemah? Sudah berapa lama kau bersandar? Sudah berapa lama kau gantungkan hidupmu pada orang lain? Lantas ketika sandaran itu hilang maka bisa kau bayangkan apa yang terjadi dalam hidupmu? Wahai jiwa-jiwa yang sedang menggantungkan hidupmu pada hal-hal selain Allah, sadarilah bahwa di dunia ini hanya ada dirimu, hanya dirimu yang mampu membuat dirimu bahagia. Terdapat sebuah quote “tidak akan bahagia seseorang jika dirinya belum merasa bahagia dengan dirinya sendiri”. Sudah berapa banyak kau gantungkan harapan dan cita-citamu pada orang lain? Sudah berapa lama kau menunggu orang lain untuk membahagiakanmu? Tidakkah kau bosan? Lalu apa yang akan kau lakukan? Waktunya dirimu untuk bergerak dan menyadari dan lihatlah dirimu yang sudah memanggil untuk kau tanggapi, panggilan itu semakin kuat dan tak dapat kau abaikan lagi. Sadarkah bahwa ketika panggilan itu kau penuhi maka kau akan berada di titik ujung dan hanya ada kau sendiri dan Allah sehingga tercetuslah kalimat “oke, deal”. Kalimat tersebut singkat namun jelas dan padat, ketika serah terima sudah terucap maka sudah dapat dipastikan sebuah kebahagiaan hanya kau sendiri yang ciptakan.

Berkata tidak bukan berarti jahat, berkata iya bukan berarti baik. Maka sudah berbuat baikkah kau pada dirimu sendiri? Sudah sejauh mana kau mempersiapkan dirimu untuk hidup tak bersandar lagi? Sudah siapkah dirimu menciptakan kebahagiaanmu sendiri? Setiap diri yang bergerak akan Allah berikan hadiah tak terduga, setiap diri yang bergerak (di jalanNya) akan Allah tunjukkan siapa dirinya sebenarnya, siapa yang bergerak mendekat maka Allah akan kokohkan jiwanya. Maka sudah siapkah kau kehilangan? Kehilangan apa-apa yang selama ini kau jadikan sandaran, kehilangan yang kau cintai, dan kehilangan-kehilangan hal-hal yang lainnya? Terasa mudah untuk menuliskan ini semua, karena pada nyatanya menghilangkan sandaran atau yang dicintai dan apa-apa yang sudah terbiasa dalam hidup tidaklah mudah. Maka sebelum benar-benar melepaskan itu, maka kokohkanlah akarmu, hingga kau bisa berdiri kuat walaupun terpaan angin, badai, hujan dan petir menghujam.

Perenungan di kala kasur telah melambai-lambai~~

Bandung, 23 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s