Seminar Parenting: Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak

Pembicara: Kang Firman dan Teh Elma (Praktisi talents mapping dan penggiat parenting)

tempat : GSG Salman ITB

Waktu : 16 Juli 2017 pkl. 12.00-17.45

Sudah sejak lama saya sangat tertarik dengan dunia psikologi/konseling/parenting dan menunggu momen yang tepat untuk mempelajarinya dan di tahun inilah saya memutuskan hal tersebut melalui beberapa kegiatan nonformal. Mengikuti seminar parenting bukan berarti saya akan memiliki anak dalam waktu dekat (karena belum punya suami, kan serem masa udah punya anak aja). Dewasa ini, banyak sekali orang yang baru mempelajari bagaimana berkeluarga itu ketika umur 20an, ketika seseorang memutuskan akan menikah dalam kurun waktu tersebut, mengikuti berbagai kegiatan contohnya saja sekolah pra nikah, padahal tahukah kalian bahwa kita dari kecil merupakan anggota dari keluarga. Banyak saya temukan orang tua yang menekankan anaknya untuk fokus pada akademiknya saja, sedangkan urusan rumah (keuangan keluarga, bersih-bersih rumah, merawat tanaman, dan lain-lain) menjadi tanggung jawab orang tua. Padahal dengan anak mengetahui kondisi keuangan keluarga misalnya (dari mana uang didapatkan, sedang ada uang atau tidak) anak akan menjadi pribadi yang mengerti keadaan, tidak menuntut, bisa menabung  atau bahkan dia mencari cara untuk membantu orang tuanya, hal ini akan sangat berguna bagi kehidupan anak kelak ketika akan membina rumah tangga.

Anak adalah ciptaan Allah, karena merupakan ciptaan-Nya maka Allah telah menginstall anak dengan maksud penciptaan-Nya masing-masing, orang tua hanya perlu mengdampingi bukan menempatkan diri sebagai Tuhan yang semua ekspektasinya harus terpenuhi. Seorang anak bisa menjadi bahan pelajaran bagi orangtua nya seperti melatih kesabaran dan komunikasi. Dengan mengenal dan mengembangkan bakat anak diharapkan setiap orang tua mampu menerima apapun kondisi, sifat dan karakter anak. Ketika anak tumbuh remaja dan dewasa, orang tua dapat membantu anak memahami dan menemukan jalan hidupnya. Siapakah yang bertugas mendampingi? Ya orangtuanya dengan cara mencontohkan dan melatih anak tersebut. Gimana sih biar sukses mengantarkan anak-anak ke jalan yang tepat sesuai maksud penciptaan-Nya? Terlebih dahulu dimulai dengan diri sendiri, silakan tanyakan pada diri sendiri, sudah sejauh mana saya mengenal diri sendiri. Jika kita mampu melalui proses pengenalan diri sendiri dengan cukup baik sehingga mampu mengenali kelemahan dan kelebihannya, maka hal ini dapat mempermudah setiap orang tua untuk mengarahkan anaknya. Misal, A bekerja sebagai marketing perusahaan besar yang padahal A tidak menikmati profesinya namun karena sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung memuaskan batinnya, akhirnya jangankan memperhatikan bakat anak, mungkin waktunya akan habis untuk sebuah pekerjaan yang tidak ada habisnya dan menguras sebagian besar energinya. Tahukah para orang tua bahwa ketika seorang anak melakukan apapun hal yang disukainya, bukan berarti anak ini dilabeli menjadi anak yang tidak penurut, anak tidak tahu diri, dan semacamnya. Anak-anak tersebut hanya ingin memastikan bahwa hidup mereka akan baik-baik saja dan mampu menyelesaikan masalah sendiri ketika orang tua telah tiada. Tidak melulu apa-apa harus diarahkan, orang tua cukup untuk mendampingi saja. Orang tua harus memfasilitasi proses pendewasaan diri di mana anak pada akhirnya mampu memahami hidup yang otentik sesuai diri sendiri 100%. Jika dirasa lingkungan tidak mendukung untuk dapat menghadirikan diri secarah utuh 100% maka berpindahlah (pindah komunitas pergaulan, pindah pekerjaan, dsb). Kok pengecut sih, mau berubah tapi pindah gitu? Bukankah jika kita ingin berubah maka carilah lingkungan yang mendukung agar kita tetap istiqomah dan Allah ridho dengan jalan hidup yang kita pilih sesuai dengan maksud penciptaan-Nya.

 

Indonesia terkenal dengan fatherless parenting di mana peran ayah sangat kurang atau bahkan tidak ada dalam sebuah keluarga, ayahnya sih ada tapi sibuk banting tulang kerja mencari nafkah, tapi ayah tidak hadir di rumah, kehadiran di sini merupakan kehadiran fisik dan jiwa yaa. Semestinya dalam pengasuhan anak, dual parenting sangatlah penting di mana pengasuhan melibatkan ayah dan ibu. Menempatkan peranan pengasuhan sesuai dengan tugasnya masing-masing, misalnya: Ibu memberikan ASI, ketika memberikan ASI diusahakan ada pertemuan antara Ibu dan anak sehingga seorang Ibu bisa berinterkasi dengan anaknya karena psikologis anak akan berbeda ketika hanya diberikan susu tidak  langsung oleh ibunya. Begitu juga dengan peran seorang ayah sebagai sosok kepala rumah tangga, ketika sosok seorang ayah hilang maka laki-laki akan bingung bagaimana bersikap sebagai seorang laki-laki dan anak perempuan pun akan bingung dalam bersikap terhadap laki-laki. Hindarkan pengasuhan anak pada kakek dan neneknya, karena pengasuhan gaya mereka adalah pengasuhan yang memanjakan bukan mendidik seorang anak. Jika orang tua ingin berteman dengan anak kelak ketika mereka tumbuh dewasa, maka jadilah temannya sejak kecil <7 tahun. Apabila Anda menemukan bahwa anak anda yang berusia remaja susah terbuka dengan anda maka tanyakan pengasuhan anda ketika mereka masih kecil.

 

Fitrah seorang anak ketika berusia kurang dari 7 tahun adalah fitrah iman dan jasmani. Fitrah iman di mana anak sudah tau yang namanya sholat, berdoa, dll. Fitrah jasmani dapat diamati dengan perubahan anak yang sudah mulai bisa berjalan, berbicara, tumbuh gigi dll. Pada umur ini ada fitrah keimanan yang sudah siap, bukan fitrah belajar, sehingga hindarkanlah mengajarkan anak anda calistung pada usia ini. Anak usia  7 tahun ke atas, sudah ada fitrah belajar dan fitrah individualitas. Fitrah belajar ini membuat anak dapat belajar hal-hal terstruktur dan logika sudah jalan. Fitrah individualitas yaitu untuk menguatkan identitas diri sehingga ketika besar nanti tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan. Anak usia 14 tahun sudah muncul fitrah seksualitas dan estetika. Fitrah seksualitas ini untuk identitas diri bahwa anak laki-laki bertindak sebagai laki-laki dan anak perempuan bertindak sebagai perempuan. Anak usia 14 tahun ke atas adalah masa puncaknya fitrah bakat anak, di mana sebenarnya fitrah bakat ini sudah muncul sejak kecil yaitu sejak 3 tahun (menurut penelitian dari Gallup). Menurut Ust. Adriano Rusfi seorang konsultan SDM, tidak ada yang namanya fase remaja, hanya ada anak dan dewasa, di antara fase itu hanya ada aqil baligh, di mana aqil sudah siap secara akal dan pikiran dan baligh sudah siap dengan organ reproduksi. Sehingga pada masa aqil baligh ini sebenarnya seseorang sudah bisa menikah karena sudah dapat bekerja sesuai dengan bakatnya masing-masing, di mana ketika mengenal bakat seorang anak mampu menemukan misi hidupnya.

Setiap manusia itu memiliki bakat yang sedemikian mendasar dan untuk mengenalinya merupakan sebuah ibadah, di mana sifat dan bakat ini alami sudah ada sejak lahir, tidak berubah/permanen, berkembang seiring pengalaman dan pendewasaan diri. Sebuah perusahaan riset statistic dunia, Gallup, menjadi dasar dari pengembangan metode talents mapping untuk lebih memahami bakat seseorang. Ciri bakat adalah yearning (nagih), rapid learning (mudah dipelajari), satisfaction (menikmati aktivitasnya dan kaitannya dengan endurance), flow (ketika mengerjakannya waktu tidak terasa, dapat asupan dopamine secara alami), dan cirri yang terakhir adalah unggul ketika melakukannya.

 

Bakat memiliki ragamnya yaitu bakat dari aspek fisik dan dari aspek kepribadian. Gallup meneliti bakat seseorang dari aspek kepribadian, di mana terdapat 34 bakat yang dikategorikan dalam empat kelompok yaitu influencing, relating, striving dan thinking. Penting sekali untuk mengetahui setiap orang dominasi pada bagian kelompok bakat yang mana, contohnya saya yang dominan pada kelompok bakat relating, maunya ketemu orang terus, kalau ngga ketemu orang malah lemes (pernah saking bosennya di kosan, jalan sendiri keliling Bandung cuma buat liat orang aja di jalan, padahal ngga kenal haha) inilah penyebab saya draining ketika lama-lama berada di laboratorium. Sekali lagi penting banget orang tua tau kelebihan dan kekurangan anak, sehingga bisa mencari sarana pengembangan potensi kelebihannya, dan dapat mensiasati kekurangannya, misal: Ibu saya tau kalau saya orang yang tidak teratur, susah kalau disuruh rapi (kebalikan dari beliau), jadi beliaulah yang kadang suka mengingatkan barang-barang yang harus saya bawa ketika bepergian, menanyakan jadwal janjian saya sama teman, dsb.

Mengetahui kelemahan dan kelebihan anak sangat perlu dalam sebuah keluarga, tidak hanya mengetahui namun juga menerima sehingga dapat membentuk self worth dan menumbuhkan anak yang sehat. Sebuah keluarga adalah tempat tumbuh yang subur bagi seorang anak; tempat orang tua juga belajar; penyangga pikiran, hati dan jiwa. Terdapat empat tahapan dalam menerima dan memahami anak yaitu:

  1. Orang tua menerima anak. Menerima apa adanya ketika lahir, dan hindari membanding-bandingkan dengan anak lain (baik anak sendiri dengan anak sendiri ataupun anak sendiri dengan anak orang apalagi anak sendiri dengan anak kucing #nahloh).
  2. Anak menerima orang tua. Ketika orang tua sudah menerima anak, maka anak pun dapat dengan mudah menerima orang tua.
  3. Orang tua melepas anak. Ini sangat penting untuk fasa kedewasaan , jika orang tua merasa belum siap melepas anak biasanya karena anak tersebut terlihat belum siap untuk dilepas, lalu ke mana sajakah orang tua nya selama ini?
  4. Anak melepas orang tua. Ini fasa di mana anak sudah mampu berdiri di atas kaki sendiri (bukan berarti sudah tidak butuh orang tua lagi ya), peranan orang tua tidak terlalu mendominasi dalam kehidupannya di fasa ini.

 

Yuk kenali diri kita sendiri terlebih dahulu, sebelum akhirnya memahami anak kelak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s