Penghargaan Terhadap Diri dan Orang Lain

Seringkali orang-orang (kadang kala saya juga) memiliki standar sendiri dalam memandang dirinya atau orang lain berharga, dan kebanyakan orang hanya memandang dari latar belakang keluarga (anaknya siapa atau keluarganya siapa), suku/ras, pekerjaan, gaji, jabatan. Tapi, sungguh  itu pikiran yang sempit ketika memandang seseorang itu berharga hanya pada beberapa hal tersebut. Ketika saya memandang orang lain berharga dari parameter-parameter tersebut maka saya pun memandang bahwa saya akan berharga untuk orang lain dan diri saya sendiri jika saya sudah memenuhi standar yang saya buat tersebut. Toh sebenarnya tidak ada yang mengharuskan untuk membuat standar itu selain diri sendiri dan itulah yang menjadikan hidup akan terasa berat dengan sekian banyak standar yang telah ditetapkan.

Standar tersebut hanya akan membatasi diri dalam memandang hidup yang lebih luas, dan sampai di  mana batasan bahwa saya atau kamu akan menilai orang lain berharga, sedangkan batasannya saja adalah hal yang abstrak. Misal, saya akan menspesialkan orang yang berasal dari suku yang sama dengan saya yaitu suku Betawi dibandingkan orang yang berasal dari suku lain, namun di satu sisi saya juga akan memandang orang lain berharga jika punya pekerjaan sebagai dokter namun orang tersebut bukan berasal dari suku Betawi, sedangkan saya berada dalam kondisi/lingkungan/tekanan untuk memilih mana yang lebih berharga.  Lalu orang mana yang saya hargai lebih, makna penghargaan terhadap orang di sini menjadi bias, dan hanya akan memusingkan diri sendiri.

 

Bisakah lebih menyederhanakan makna “berharga” tersebut? Iya lebih sederhana! Maksudnya gimana kak Nisrin? Iya, kamu itu berharga karena kamu, iya kamu! Bukan karena kamu anak Pak Raden yang punya kumis tebal dan disegani orang-orang. Iya Kamu! Bukan karena kamu lulusan Institut Ilmu Sihir terbaik dunia haha. Iya Kamu! Bukan karena kamu punya seratus hektar sawah, bukan karena kamu seorang CEO PT. Bebek Goreng Enak (maapiin lagi puasa, ya ampuun). Kamu berharga karena kamu sendiri dan saya berharga karena saya adalah saya, seorang Nisrina., simple banget kan teorinya, hehe.

 

Gimana coba kak Nisrin? Itu susah banget dipaktekinnya? Iya memang susah, jujur saja, sulit banget awalnya, tapi kalau sudah menemukan kuncinya, pasti bisa kok. Kuncinya apa kak Nisrin? Saya dan kamu harus tau kelebihan dan kekurangan masing-masing, bukan hanya selewat yaa, tapi benar-benar dimaknai, dan jangan terlalu fokus pada kelemahan, namanya manusia tidak ada yang sempurna, karena jika fokus pada kelemahan hanya akan membuat saya jadi orang yang kufur nikmat, padahal Allah sudah kasih kita banyak kelebihan kan? Sayang banget kalau tidak dimanfaatkan kelebihan tersebut. Coba renungkan baik-baik, kelebihan apa yang dimiliki sedangkan orang lain sulit sekali untuk melakukannya.

 

Kadang apa yang membuat saya (atau mungkin juga kamu) terkungkung pada standar yang dibuat diri sendiri, karena kurangnya sikap terbuka pada lingkungan dan pergaulan yang cukup terbatas. Bagaimana pun seseorang, introvert ataupun extrovert tidak menjadi alasan untuk tidak bergaul dengan orang lain. Mengapa saya mengatakan bahwa pentingnya seseorang untuk bergaul? Karena ketika saya memiliki teman maka saya memiliki pengingat jika terdapat perbuatan/kebiasaan saya yang salah dan berakibat buruk/fatal bagi sekitar,  memiliki teman diskusi dan melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, tidak hanya memusatkan segala sesuatu pada diri sendiri. Apakah banyak teman/komunitas cukup? Tidak! Karena bila bergaul tapi tidak/kurang memiliki rasa menerima akan masukan-masukan orang lain, maunya jadi pusat perhatian, maunya dimengerti, ya tidak akan beda jauh (kok jadi kemana-mana ya, saya suka pusing sendiri sama tulisan saya, haha).

Kembali lagi ke topik, bahwa penghargaan terhadap diri dan orang lain itu penting. Ketika sudah menghargai diri maka orang lain pun akan menghargai kita (tidak semua), dengan mengetahui diri lebih jauh maka diri ini sesungguhnya semakin dekat dengan penciptanya, karena mengetahui misi hidupnya di dunia apa, dan untuk mengetahui dirinya, manusia pun semestinya mendekatkan diri kepada penciptanya, untuk apa? Untuk menurunkan ego yang menyelimuti diri dan mendengarkan suara hati yang sering kali terabaikan. Jadi, mendekatkan diri dengan pencipta dan proses memahami/menghargai diri adalah dua hal yang berkesinambungan.

 

 

Ditulis pada siang bolong bulan Ramadhan

-Nisrina-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s