Belajar dari Alam

Sebagai kakak yang mungkin agak overprotective sama adiknya, saya merasa bertanggungjawab terhadap apa yang telah dan akan dia dilakukan. Dari mulai mengontrol tentang minatnya, kesehariannya di kampus, dan beberapa hal yang kadang dinilai ngga penting. Pernah dicuekin karena terlalu bawel? Iya, tapi dia adalah salah satu orang yang harus saya jaga. Pernah suatu ketika komunikasi antara kita agak renggang karena saya dapet bonus pergi ke belahan dunia lain, di situ saya merasa bersalah karena ngga bisa jadi temen cerita dia dan mantau dia kaya biasanya. Bukan uang yang seorang adik butuhkan (butuh juga sih haha) tapi perhatian dan contoh yang baik dari seorang kakak, bukankah apa-apa yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan nantinya, walaupun hanya sebagai seorang kakak. Saya memposisikan diri sebagai seorang yang bisa menjadi teman, kakak, dan mungkin kaya emak-emak.

Iseng-iseng ngga jelas kadang nanyain kabar, atau sekedar nanyain profile picture medsosnya yang ganti, terkesan ngga penting ya? Mungkin haha. Iseng-iseng nanyain kabar kali ini membawa saya pada perbincangan serius dengan dia. Adik saya adalah seorang perempuan yang agak tomboy, suka berpetualang, suka dengan hal-hal baru, agak introvert, agak cuek dan dinamis berkebalikan dengan saya yang sukanya di zona nyaman, anak rumahan, ekstrovert, perasa dan statis. Dia bercerita kalau dia habis naik gunung dengan teman-temannya, kalau dia bilang ke saya sebelum naik mungkin akan saya larang. Setau saya dia memang senang pergi ke alam, tapi saya belum pernah dengar dia naik gunung. Jadi, ini adalah kali pertama dia untuk mendaki gunung. Dia bercerita bahwa pendakian ini harusnya hanya memakan waktu satu hari, namun karena medan yang begitu curam, waktu yang dihabiskan adalah 4 hari. Karena bukan jalan datar, melainkan tebing berbatu sehingga puncak tidak mungkin dicapai dengan cara berjalan. Tebing berbatu itu juga yang membuat gunung ini tidak meninggalkan jejak para pendaki sebelumnya, salah pegang batu saja mungkin bisa jadi masuk jurang ditambah dengan kondisi yang berkabut. Jurang yang ada bukan jurang yang isinya pohon-pohon, tapi kawah yang kalau jatuh kedalamnya maka tubuh kita bisa hmm. Satu kalimat dari adik saya bahwa “baru pertama kali gw ngerasain kematian itu dekat, lebih dekat dari pada waktu sakit” Iya memang kalau dipikir-pikir khawatir juga, bahaya banget, ngapain dia naik gunung. Tapi, ada banyak hal yang dia pelajari dari pengalamannya salah satunya yaitu dari alam kita bisa belajar untuk semakin mendekatkan diri kepada sang Pencipta dan kita ini bukan siapa-siapa untuk menyombongkan apa yang kita punya. Selain itu, pelajaran lainnya adalah ketika kita tidak melihat  ada jalan akan permasalahan hidup kita bukan berarti jalan itu tidak ada, ada campur tangan Allah didalamnya, seperti dalam kisah nabi Musa A.S. yang diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya (QS 20: 77-78).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s