Biarkan Saja Air Itu Mengalir

Setiap orang tidak hanya dikaruniai satu passion, namun bisa saja beberapa. Setelah dipikir-pikir mungkin ada beberapa orang yang menyukai berbagai hal karena keinginan besar untuk terus meng-explore diri. Ketika aku rasa mulai jenuh dengan dunia science yang semakin rumit dan beberapa hal traumatis, tak adil rasanya bila aku menyebut bahwa science bukan passion-ku. Bisa mengenyam pendidikan dengan program fastrack, melakukan penelitian di Belanda, tidak benar rasanya jika aku mengatakan bahwa kimia/science bukan passionku. Mungkin aku sedang lari ke dunia lain yang cukup menarik perhatian aku juga, yaitu passion-passion-ku yang lain. Hingga aku menyadari, biarlah passion-passionku yang lain menjadi sekedar hobi. Aku harus berpikir realistis akan masa depanku, langkah yang aku perbuat harus sejalan dengan apa-apa yang akan aku capai kedepannya.

Aku memiliki targetan hal-hal yang harus aku capai setiap aku menginjakkan umur sekian dan sekian. Bisa dibilang aku orang yang cukup ambisius dalam menginginkan sesuatu. Hingga akhirnya aku mengurungkan niat untuk melanjutkan sekolah (S3), menekan ambisi yang selama ini menyelimuti diri ini. Hingga akhirnya hidup ini aku maknai sebagai suatu hal yang sederhana yaitu dapat bekerja tidak jauh dari tempat tinggal orang tuaku, dapat membahagiakan mereka, lebih sering bersama mereka (mengingat usia mereka yang semakin berumur dan mengingat betapa seringnya aku ke sana – ke mari sibuk dengan urusanku sendiri). Namun, ternyata hidup tidak sesederhana itu kawan. Kadang kita harus melakukan hal-hal yang kita tidak pernah duga. Keinginan untuk melanjutkan studi sebenarnya masih ada dibenakku, hingga jemari ini dengan lancarnya bergerak untuk mengontak professor untuk mendapatkan tempat Ph.D. Tidak disangka akhirnya dibalas, namun isinya adalah pernyataan beliau yang tidak bisa menerima student karena sudah mau pensiun tahun depan, dan email dariku di cc ke relasinya dan segera kukontak. Komunikasi yang berjalan menurut ku masih ambigu apakah beliau menerimaku atau tidak. Hingga akhirnya aku pasrah saja dan mungkin akan cari yang lain atau bekerja saja, dan nanti saja aku ambil program doktornya setelah sekian tahun kemudian. Namun, 2 minggu kemudian beliau mengontak aku kembali dan menyatakan bersedia menerimaku sebagai student-nya dengan beasiswa yang harus diusahakan sendiri. Sebenarnya ada sedihnya juga, sambil nanya sama diri sendiri, yakin mau S3? Yakin hidup mandiri jauh dari orang tua?

Menjadi mahasiswa S3  tidaklah mudah. Namun, ini kesempatan yang ada di depan mata. Mendapatkan kampus yang mungkin diidam-idamkan oleh sebagian orang, mendapat professor yang baik. Dulu memang sekolah sampai jenjang S3 merupakan salah satu keinginanku yang harus aku capai. Namun, 2 tahun belakangan sudah kubiarkan pupus. Bahkan hingga awal tahun inipun, belum ada inginan untuk melanjutkan studi. Katanya ga mau S3? Katanya ga mau ke Jepang? Nah, pelajaran hidup adalah kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan sehingga bisa saja ketika kita bilang tidak ternyata menjadi iya di masa datang, atau ketika kita bilang iya tenyata menjadi tidak di masa datang. Biarkan saja seperti air mengalir, jalani saja hidup kita, biar Allah yang menulis segala skenario jalan hidup kita.

Advertisements

2 thoughts on “Biarkan Saja Air Itu Mengalir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s