Belajar dari Alam

Sebagai kakak yang mungkin agak overprotective sama adiknya, saya merasa bertanggungjawab terhadap apa yang telah dan akan dia dilakukan. Dari mulai mengontrol tentang minatnya, kesehariannya di kampus, dan beberapa hal yang kadang dinilai ngga penting. Pernah dicuekin karena terlalu bawel? Iya, tapi dia adalah salah satu orang yang harus saya jaga. Pernah suatu ketika komunikasi antara kita agak renggang karena saya dapet bonus pergi ke belahan dunia lain, di situ saya merasa bersalah karena ngga bisa jadi temen cerita dia dan mantau dia kaya biasanya. Bukan uang yang seorang adik butuhkan (butuh juga sih haha) tapi perhatian dan contoh yang baik dari seorang kakak, bukankah apa-apa yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan nantinya, walaupun hanya sebagai seorang kakak. Saya memposisikan diri sebagai seorang yang bisa menjadi teman, kakak, dan mungkin kaya emak-emak.

Iseng-iseng ngga jelas kadang nanyain kabar, atau sekedar nanyain profile picture medsosnya yang ganti, terkesan ngga penting ya? Mungkin haha. Iseng-iseng nanyain kabar kali ini membawa saya pada perbincangan serius dengan dia. Adik saya adalah seorang perempuan yang agak tomboy, suka berpetualang, suka dengan hal-hal baru, agak introvert, agak cuek dan dinamis berkebalikan dengan saya yang sukanya di zona nyaman, anak rumahan, ekstrovert, perasa dan statis. Dia bercerita kalau dia habis naik gunung dengan teman-temannya, kalau dia bilang ke saya sebelum naik mungkin akan saya larang. Setau saya dia memang senang pergi ke alam, tapi saya belum pernah dengar dia naik gunung. Jadi, ini adalah kali pertama dia untuk mendaki gunung. Dia bercerita bahwa pendakian ini harusnya hanya memakan waktu satu hari, namun karena medan yang begitu curam, waktu yang dihabiskan adalah 4 hari. Karena bukan jalan datar, melainkan tebing berbatu sehingga puncak tidak mungkin dicapai dengan cara berjalan. Tebing berbatu itu juga yang membuat gunung ini tidak meninggalkan jejak para pendaki sebelumnya, salah pegang batu saja mungkin bisa jadi masuk jurang ditambah dengan kondisi yang berkabut. Jurang yang ada bukan jurang yang isinya pohon-pohon, tapi kawah yang kalau jatuh kedalamnya maka tubuh kita bisa hmm. Satu kalimat dari adik saya bahwa “baru pertama kali gw ngerasain kematian itu dekat, lebih dekat dari pada waktu sakit” Iya memang kalau dipikir-pikir khawatir juga, bahaya banget, ngapain dia naik gunung. Tapi, ada banyak hal yang dia pelajari dari pengalamannya salah satunya yaitu dari alam kita bisa belajar untuk semakin mendekatkan diri kepada sang Pencipta dan kita ini bukan siapa-siapa untuk menyombongkan apa yang kita punya. Selain itu, pelajaran lainnya adalah ketika kita tidak melihat  ada jalan akan permasalahan hidup kita bukan berarti jalan itu tidak ada, ada campur tangan Allah didalamnya, seperti dalam kisah nabi Musa A.S. yang diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya (QS 20: 77-78).

Waspada itu Penting

Entah sudah berapa orang yang mungkin berkata kepadaku bahwa aku harus bisa menghargai diriku sendiri. Mungkin mereka benar akan kurangnya penghargaanku terhadap diriku sendiri. Namun, satu hal yang aku ketahui aku orang yang sangat mendahulukan kepentingan orang lain (bukan bermaksud memuji) di atas kepentingan diriku sendiri hingga kadang lupa bahwa diri ini perlu juga diperhatikan oleh pemiliknya. Membandingkan hasil karyaku yang tidak seberapa dengan milik orang lain, menganggap remeh diri sendiri, dan judgement-judgement lainnya terhadap diri sendiri.

Aku ingin mengisi semua pikiranku dengan hal-hal positif  karena aku menginginkan kebahagiaan. Kalau bukan kita yang menciptakan kebahagiaan itu sendiri, maka siapa lagi? Tak jarang orang mengatakan bahwa aku terlalu naif dan seolah-olah mau saja melakukan apapun atas tindakan atau niatan orang yang tidak baik kepadaku. Tapi, yasudahlah yang penting kita niatkan untuk membantu maka tak ada salahnya.

Sampai pada akhirnya aku merasa lelah dengan semua hal yang telah aku lakukan. Bukan! aku bukan menyesal dengan apa yang telah aku perbuat, mungkin sepertinya aku salah strategi dalam menempatkan diri ini di depan orang-orang. Tak jarang beberapa orang mengingatkanku untuk selalu berhati-hati/waspada dengan orang di sekeliling. Bukan suudzon tapi waspada itu penting sekali.

Ketika pertemanan sudah melibatkan banyak emosi (timbul rasa sayang), tak jarang apabila hal-hal di luar ekspektasi yang begitu tinggi telah terpasang terjadi maka  akan membuat diri ini terpukul atas kejadian tersebut. Memang semua orang itu tidak sempurna, pasti memiliki kekurangan dan kita harus mengambil sisi positifnya. Tapi, di sini aku bukan lagi membicarakan hal tersebut, maksudku di sini adalah sebuah hal yang berbeda dari yang kita ekspektasikan. Misal, kita sangat menganggap seseorang itu dekat dengan kita, tak jarang kita akan menganggapnya keluarga sendiri, sudah seperti orang tua, kakak, adik atau apalah. Namun, sepertinya melihat dari tingkahnya tidak secuil pun hal tersebut berbalik, bahkan kau seperti orang lain di matanya. Lama-lama rasa sayangmu pun akan luntur terhadap orang ini dan kau harus lebih waspada tentunya terhadap orang lain dan orang ini khususnya. Bukan mengharapkan timbal balik atau pamrih istilahnya, namun sudah seperti inilah layaknya sebuah pertemanan, “saling” merasa seperti saudara, bukan hanya sepihak saja.

Di umur yang akan menginjak usia 24 sebentar lagi, maka tidak boleh aku terlalu naif, namun tidak juga dihinggapi dengan penuh rasa curiga seperti dikejar-kejar hantu. Intinya mampu menempatkan sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan dan jangan memasang ekspektasi terlalu tinggi.

Semoga hari-harimu dan hari-hariku selalu dikelilingi oleh orang-orang baik yaaa… yang selalu tulus menyayangi dan menemani kita di setiap kondisi apapun.

-Jangan Lupa Bersyukur-

 

 

 

Biarkan Saja Air Itu Mengalir

Setiap orang tidak hanya dikaruniai satu passion, namun bisa saja beberapa. Setelah dipikir-pikir mungkin ada beberapa orang yang menyukai berbagai hal karena keinginan besar untuk terus meng-explore diri. Ketika aku rasa mulai jenuh dengan dunia science yang semakin rumit dan beberapa hal traumatis, tak adil rasanya bila aku menyebut bahwa science bukan passion-ku. Bisa mengenyam pendidikan dengan program fastrack, melakukan penelitian di Belanda, tidak benar rasanya jika aku mengatakan bahwa kimia/science bukan passionku. Mungkin aku sedang lari ke dunia lain yang cukup menarik perhatian aku juga, yaitu passion-passion-ku yang lain. Hingga aku menyadari, biarlah passion-passionku yang lain menjadi sekedar hobi. Aku harus berpikir realistis akan masa depanku, langkah yang aku perbuat harus sejalan dengan apa-apa yang akan aku capai kedepannya.

Aku memiliki targetan hal-hal yang harus aku capai setiap aku menginjakkan umur sekian dan sekian. Bisa dibilang aku orang yang cukup ambisius dalam menginginkan sesuatu. Hingga akhirnya aku mengurungkan niat untuk melanjutkan sekolah (S3), menekan ambisi yang selama ini menyelimuti diri ini. Hingga akhirnya hidup ini aku maknai sebagai suatu hal yang sederhana yaitu dapat bekerja tidak jauh dari tempat tinggal orang tuaku, dapat membahagiakan mereka, lebih sering bersama mereka (mengingat usia mereka yang semakin berumur dan mengingat betapa seringnya aku ke sana – ke mari sibuk dengan urusanku sendiri). Namun, ternyata hidup tidak sesederhana itu kawan. Kadang kita harus melakukan hal-hal yang kita tidak pernah duga. Keinginan untuk melanjutkan studi sebenarnya masih ada dibenakku, hingga jemari ini dengan lancarnya bergerak untuk mengontak professor untuk mendapatkan tempat Ph.D. Tidak disangka akhirnya dibalas, namun isinya adalah pernyataan beliau yang tidak bisa menerima student karena sudah mau pensiun tahun depan, dan email dariku di cc ke relasinya dan segera kukontak. Komunikasi yang berjalan menurut ku masih ambigu apakah beliau menerimaku atau tidak. Hingga akhirnya aku pasrah saja dan mungkin akan cari yang lain atau bekerja saja, dan nanti saja aku ambil program doktornya setelah sekian tahun kemudian. Namun, 2 minggu kemudian beliau mengontak aku kembali dan menyatakan bersedia menerimaku sebagai student-nya dengan beasiswa yang harus diusahakan sendiri. Sebenarnya ada sedihnya juga, sambil nanya sama diri sendiri, yakin mau S3? Yakin hidup mandiri jauh dari orang tua?

Menjadi mahasiswa S3  tidaklah mudah. Namun, ini kesempatan yang ada di depan mata. Mendapatkan kampus yang mungkin diidam-idamkan oleh sebagian orang, mendapat professor yang baik. Dulu memang sekolah sampai jenjang S3 merupakan salah satu keinginanku yang harus aku capai. Namun, 2 tahun belakangan sudah kubiarkan pupus. Bahkan hingga awal tahun inipun, belum ada inginan untuk melanjutkan studi. Katanya ga mau S3? Katanya ga mau ke Jepang? Nah, pelajaran hidup adalah kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan sehingga bisa saja ketika kita bilang tidak ternyata menjadi iya di masa datang, atau ketika kita bilang iya tenyata menjadi tidak di masa datang. Biarkan saja seperti air mengalir, jalani saja hidup kita, biar Allah yang menulis segala skenario jalan hidup kita.

Kamu Pernah Merasa Dimanfaatkan? Inilah Solusinya!

Pernah ga suatu ketika kamu bantu orang? Pasti pernah kaan? Niat kamu beneran tulus mau bantu (tulus tidaknya nilai sendiri saja ya), tapi ada aja yang nyeletuk bilang “Kamu tuh dimafaatin!”. Sebenernya kamu sedang dimanfaatkan atau tidak itu tergantung dari niat yang meminta bantuan sama kamu, apakah datang hanya saat perlu saja, atau tidak, atau memang terdesak sangat membutuhkan bantuan, atau tergantung dari sudut pandang kamu melihat kejadian tersebut. Coba saja kita ditempatkan pada posisi seperti orang tersebut, di saat sangat membutuhkan pertolongan orang-orang, apakah kamu akan tega membiarkan teman/bahkan orang terdekat kalian kesulitan? Jika niatmu pun tulus membantu, tidak ada yang namanya tuh kamu dimanfaatkan. Bukankah kita hidup di dunia ini memang harus saling bermanfaat untuk orang lain.

10387316_10204651833234129_1148879292526344281_n

Kenapa saya selalu dimanfaatkan?? (Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204651833234129&set=t.1787224178&type=3&theater).

Kalo kamu mengira bahwa setiap ada yang meminta bantuan dan kamu membantunya adalah kamu dimanfaatkan. Maka kamu pun tidak boleh meminta bantuan kepada orang lain, simpelnya sih begitu. Sanggup hidup begitu? Silakan pikirkan sendiri. Jika pun kalian akhirnya membantu, namun ujung-ujungnya hanya bisa menggerutu bahwa kamu dimanfaatkan, aku pikir lebih baik kamu tidak membantu sama sekali, karena daripada berujung dosa karena ketidakikhlasanmu dalam membantu orang-orang tersebut, mengungkit-ngungkit jasa yang telah kau lakukan kepada orang lain, dan pada akhirnya malah mengotori hatimu saja.

Kamu orang yang sangat tidak tega bila melihat orang lain susah? Bersyukurlah pada Tuhan, kau telah dianugerahi hal tersebut, karena tidak banyak orang seperti itu. Jangan risaukan kata-kata orang yang berkata bahwa kamu ini terlalu baik sehingga banyak yang memanfaatkanmu. Semua yang kita lakukan di dunia ini akan berbalik ke diri kita sendiri, ketika kita sudah berbuat baik, pasti segala kebaikan akan datang ke kehidupan kita dari berbagai sisi.

tolong menolong

Tolong-menolong, ngga salah kan ? (Sumber: http://static.pulsk.com/images/2013/03/15/thumb_320_5142e3ed2a229_5142e3ed2b1ca.jpg).

Hidup di dunia yang cukup keras ini, bertemu dengan milyaran orang yang memiliki karakter berbeda-beda, akan sangat menghabiskan energi bila digunakan untuk menganalisa sifat buruk seseorang.  Kita berhak hidup dengan bahagia, penuh kedamaian dan tenang. Kita tidak bisa menuntut seseorang untuk membalas segala bantuan yang telah kita berikan, jika masih ada pengharapan maka silakan perbaiki hati kalian. 

12106859_10204951304127903_2944162280432775728_n

Kalian berhak hidup bahagia (Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204951304127903&set=t.1309041288&type=3&theater).

Hmm… Menikah??

Membicarakan perihal yang satu ini memang sulit bagiku. Ini bukanlah hal main-main melainkan hal yang cukup serius. Bahkan untuk sekedar pacaran pun aku belum bisa dikatakan memiliki keberanian. Semua orang hanya sebatas aku anggap sebagai adik, kakak, atau saudaraku sendiri dan tidak lebih. Pernah suatu ketika ada obrolan dengan salah seorang kenalan:

“Nisrin, saya lihat-lihat kamu lumayan juga, tapi kok belum punya pacar”, katanya.

“Hmm.. saya belum siap pacaran 🙂 “, kataku.

“Kan pacaran, bukan menikah juga”, lanjut beliau.

Selain obrolan tersebut pun masih banyak obrolan-obrolan serupa. Seperti contohnya.

“Nisrin, kok masih jomblo aja?”, kata salah seorang teman.

“Iya belum ada yang mau mungkin sama aku..”, jawabku

“Mungkin kamu ngga ngerti kali kalo kamu lagi dikodein, jadi orangnya sampe cape..”, jawab beliau.

Di umur seusiaku (akan menginjak 24 sebentar lagi) ketika seseorang membicarakan perihal pacaran, maka bukan lagi hubungan main-main seperti yang dilakukan anak-anak ABG.

Aku akui, aku adalah orang yang cukup perfectionist. Beberapa hal perfectionist sudah aku turunkan, namun masih ada sedikit jiwa-jiwa ke-perfectionist-an dalam diriku mungkin terutama dalam memilih pasangan hidup. Beberapa teman mengakui bahwa terdapat barrier yang terpasang cukup tinggi sehingga sulit sekali orang untuk memasukinya. Cara membahagiakan/mendidik anak dimulai dari memilih calon imam dengan baik yang mampu mengerti perannya sebagai seorang kepala rumah tangga. Ketika kau berbicara tentang rencana hidup dengannya kau akan memiliki visi dan misi yang sama, ketika kau bersamanya kau akan merasa nyaman, ketika kau bersamanya kau akan merasa terlindungi dan bukan malah sebaliknya kita sebagai kaum wanita yang mengarahkan pasangan kita. Kedewasaan tidak dapat ditentukan dari umur seseorang, umur seseorang hanya dapat dilihat sebagai ukuran banyak tidaknya pengalaman seseorang.

Aku akui, aku bukanlah wanita berwajah cantik, berhati lembut, punya otak yang super brilliant. Aku bukan wanita yang pintar memasak, tidak keibuan dan mungkin ilmu agamaku masih kurang. Aku pun tidak menuntut kesempurnaan dari pasanganku nanti, namun aku hanya ingin orang yang mau belajar bersama-sama denganku akan banyak hal termasuk dalam menghadapi dunia ini. Orang yang mampu membimbingku ke arah yang lebih baik. Mampu mengajarkanku selalu ber-positive thinking akan kondisi sekelilingku.

…..yang adalah apabila kau bersamanya, kau merasa dekat dengan surga

Sempat terlintas bahwa aku ingin menikah di akhir 20an. Namun, beberapa orang bilang kalau itu tidak baik bagi seorang wanita. Kemudian, karena suatu sebab aku bukannya memajukan target malah memundurkannya menjadi 30an. Malah saking parahnya terlintas untuk tetap single. Namun, mengingat pasti akan repotnya diriku ketika yang lain sudah berkeluarga, aku malah sibuk mencari teman untuk diajak bermain dan tidak ada lagi karena masing-masing sudah sibuk dengan urusannya sendiri. Mengingat bahwa menikah adalah sunnah Rasul SAW, dan bagi yang sengaja untuk tidak menikah maka dikatakan bukan pengikutnya, maka tidak ada alasan untuk tetap sendiri.

Aku tidak menuntut kesempurnaan dari pasanganku. Melainkan aku menuntut kesempurnaan akan diriku sendiri. Di mana aku mengakui masih banyak kekuranganku, terlebih aku tidak menyukai nasi, itu akan merepotkan pasanganku kelak, sehingga aku harus punya penghasilan sendiri agar tidak terlalu membebaninya. Masih banyak yang harus aku perbaiki dari mulai keahlianku sebagai seorang wanita, dan wawasanku akan banyak hal. Mungkin, ketika nanti kurasa sudah cukup matang maka di saat itulah kunyatakan siap untuk mempunyai hubungan yang serius. Bukan ketakutan yang banyak orang rasakan ketika undangan pernikahan sudah banyak menghampiri, melainkan ketakutan akan hal lain. Ketakutan tersebut meliputi, ketakutan tidak bisa menjadi istri yang baik, ketakutan tidak bisa menjadi ibu yang baik, ketakutan membebani pasangan, dan lain lain. Sebenarnya semakin kau menjauhinya maka kau akan semakin takut, yang harus dilakukan adalah biasa menghadapinya. Dan mencoba untuk tidak men-judge seseorang terlebih dahulu tanpa kenal dekat dengannya.

Anak yang dibesarkan dari kematangan emosional orang tuanya, akan tumbuh menjadi anak dengan keadaan psikologis yang cukup baik. Sehingga, aku menuntut diriku untuk selalu berpikir dengan dewasa apapun yang terjadi, agar mampu menempatkan diri dengan baik dalam setiap situasi dan kondisi. Entah, ukuran kematangan emosional itu terukur lewat apa dan sampai dimana dikatakan telah “matang”. Namun, aku percaya semua itu melalui berbagai proses yang tidak mudah untuk dilalui.

Karbon dapat menjadi intan setelah ditempa dengan energi yang besar dan waktu yang cukup lama. 

Jika Allah mengetahui bahwa aku dirasa telah siap, maka aku percaya bahwa Allah akan mempertemukan di waktu dan saat yang tepat. Tugas kita hanya fokus akan target hidup kita, memperbaiki diri kita, berbuat baik dan berguna bagi orang-orang sekeliling kita, dan terus beribadah kepada Allah SWT. Insya Allah, Dia akan memberikan kita jodoh yang terbaik, yang dapat melengkapi kita dan seseorang yang kita butuhkan. Aamiin aamiin aamiin.

Makna Bandung Bagiku

Bandung, bukan hanya kota tempatku menuntut ilmu. Bandung memiliki arti yang cukup besar bagiku, di sini aku temukan sahabat-sahabat, kakak-kakak, adik-adik, dan banyak orang yang sudah kuanggap keluargaku sendiri. Mereka telah mengajarkanku pentingnya sebuah persahabatan, bagaimana seharusnya memperlakukan teman, bagaimana cara menghormati orang lain, bagaimana peduli dengan orang lain, menjadikanku pribadi yang lebih peka akan kondisi orang-orang di sekililing, belajar arti simpati dan empati serta banyak hal yang kupelajari di kota ini, bukan hanya hal akademik semata.

Dan Bandung, bagiku, bukan cuma masalah geografis, lebih dari itu melibatkan perasaan! (Pidi Baiq)

Postingan ini memang cukup telat kubuat. Namun, aku ingin menceritakan betapa sulitnya aku dipisahkan dengan kota ini. Akhir Desember 2014 lalu tiba saatnya aku harus meninggalkan Bandung sekitar 7 bulan karena harus melakukan penelitian tesisku di Groningen, Belanda. Tidak ada rasa excited dalam benakku pergi ke negeri orang, melainkan campur aduk antara sedih, takut, resah, gelisah, gundah, gulana, tsaah. Bukan mempersiapkan dengan baik barang yang akan dibawa, aku dan keluarga memutuskan untuk liburan sejenak di Jogjakarta seminggu sebelum keberangkatanku, di tengah proposal penelitian yang harus aku rampungkan, betapa deadliners-nya dirikuuh kaaan!!

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Liburan bersama keluarga, mereka adalah kakakku, Pipit (kiri), dan adikku, Lely (kanan).

Sulitnya meninggalkan Bandung tersebut dibuktikan dari mendadaknya aku pindahan dari Bandung ke Karawang (rumah), 3 hari sebelum keberangkatan dan baru memulai packing 1 hari sebelum keberangkatan. Alhasil, barang-barang bawaanku ada yang tidak terpakai karena tidak melalui tahap perencanaan yang matang. Memindahkan barang dari Bandung ke rumah saja itu sulit aku lakukan, karena kos-kosan yang sudah aku tempati dari 2010 sangat bermakna bagiku. Ibu kos yang bagaikan Ibu sendiri membuat aku cukup sedih meninggalkan Bandung, beliau mengajarkanku untuk selalu berbuat baik kepada siapapun dan selalu ber-positive thinking akan segala hal. Alih-alih aku sedih namun malu menitikkan air mata di depan Ibu kos, akhirnya meledak saat barang-barangku di-packing ulang karena tidak cukup di kendaraan (alasan yang bagus bukaan? haha). Maaf mungkin para pembaca akan berkomentar betapa bapernya sang penulis.

Sesampainya di negara dan kota tujuan, aku semakin mensyukuri akan kehidupan yang pernah kujalani di Bandung. Setiap langkahku tidak akan pernah lepas dari ingatan akan kota yang sangat cantik, ramah dan penuh dengan kenangan ini. Syukur terhadap teman-teman yang pernah aku kenal, pengalaman yang pernah aku dapat, ilmu yang kuperoleh, dan banyak hal, yang mungkin tidak aku dapatkan di Groningen. Bukannya aku tidak mensyukuri anugerah yang pernah Allah berikan padaku sehingga aku berkesempatan tinggal di Belanda. Namun, aku ingin melihat dari sudut pandang lain bahwa aku jadi lebih bersyukur ketika aku menginjakkan kakiku lagi di Indonesia dan di Bandung tentunya. Aku dapat mendengarkan kumandang Adzan kembali, aku dapat bersenda gurau dengan teman-teman yang sangat aku rindukan, aku dapat mengetahui kabar keluargaku dengan jelas, aku dapat mendengarkan keluh kesah teman-temanku dengan baik. Setiap aku ingin mengeluh, maka aku ingat betapa berjuangnya hidupku di negeri orang, dibandingkan dengan kehidupanku di Indonesia mungkin tidak seberapa.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

12119040_10205181498800593_3737507492882037491_n

Deja Vu

Dulu, ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah, ada beberapa jurusan yang aku inginkan, dua bidang  yang sangat aku sukai adalah kimia dan psikologi. Namun, karena mempertimbangkan beberapa hal akhirnya kuputuskanlah untuk fokus mengambil jurusan kimia di ITB. Tanpa harus mencoba daftar ke beberapa universitas, diterimalah aku kuliah di FMIPA ITB dan mengambil jurusan kimia pada tahun 2010. Kemudian, pada akhir semester empat aku memutuskan untuk mengikuti program honors/fastrack (masa studi S1 dan S2 hanya lima tahun). Pada semester lima dimulailah hari-hari penuh dengan tugas-tugas yang dibebankan lebih dibandingkan dengan anak-anak lain, sudah memasuki dunia penelitian untuk tugas akhir semenjak semester 6, dan mengambil mata kuliah wajib S2 sejak semester 7. Beberapa teman berkata bahwa “saat lo ngerjain tugas akhir, disitulah lo tau bahwa itu passion lo atau bukan” daaan semenjak mengerjakan tugas akhir itulah aku merasa ini bukan passionku. Pergolakan batin itu semakin meningkat ketika lulus S1. Namun, karena sayang dengan beberapa mata kuliah wajib S2 yang sudah aku ambil, dorongan dari teman-teman untuk menyelesaikan studi S2 yang hanya tinggal setahun, dan beberapa faktor lain maka kulanjutan studiku. Selain itu, Allah memberiku rezeki untuk merasakan pengalaman tinggal di luar negeri selama 6 bulan. Disitulah puncak bahwa aku merasa semakin jauh melangkah di tempat yang bukan seharusnya ditambah mendapat professor, daily supervisor, dan kondisi lab yang kurang professional dan penuh tekanan. Untungnya, ada saja cara  Allah mengirimkanku orang-orang baik untuk membantuku di setiap aku merasakan kesulitan. Aku percaya bahwa Allah menunjukku untuk merasakan hal ini karena ada yang ingin Dia sampaikan mengenai kehidupan. Bukan cuma perihal mementingkan diri sendiri namun juga peduli dengan orang lain, tidak peduli akan dibalas dengan kebaikan lagi atau tidak dengan orang tersebut. Sesuai dengan apa yang telah kita pelajari bahwa terdapat hukum kekekalan massa dan energi, dan aku yakin bahwa ada juga hukum kekekalan dalam hal kebaikan di kehidupan ini.

Tepat di hari ini aku merasakan hal yang sama seperti apa yang terjadi padaku sekitar 6 bulan yang lalu. Istilah kerennya adalah “Deja Vu”. Sidang magisterku dilaksanakan pada tanggal 15 September 2015, dan tidak diluluskan oleh salah satu dosen penguji dan harus sidang ulang 10 hari kemudian pada tanggal 25 September 2015. Padahal ketika berada di luar aku merasa pertanyaan dapat kujawab dengan baik, dan bahkan profesorku yang galak memuji presentasiku. Merasa selalu aman dalam hal akademik membuatku sangat down dengan kejadian ini. Suasana sidang yang bagaikan pelantikan osjur (ospek jurusan), flow 5 dengan pertanyaan yang disampaikan dengan tidak jelas dan dituntut untuk mengerti sepenuhnya, pertanyaan yang tidak terlalu didalami dalam thesis, hal tersebut sepertinya tidak akan aku lupakan. Itulah salah satu masa terpuruk yang pernah aku alami. Merasa malu? Ya. Marah? Ya. Merasa bodoh? Ya. “mengapa harus aku?” menjadi pertanyaan aku pada Allah. Tumbangnya akupun diikuti dengan tumbangnya dosen pembimbing yang sakit selama seminggu karena terlalu stress memikirkan aku. Selama 2 hari aku tidak bisa tidur sendiri, dan selama seminggu harus ditemani makan, terkesan berlebihan tapi ya memang begitu yang terjadi. Aku hanya diberikan waktu 10 hari untuk menangis, bangkit, belajar kembali materi yang akan diujikan dan mengolah emosionalku, dan harus kuhadapi para penguji yang sama. Karena aku tahu hasil akan sebanding dengan usaha, maka kukerahkan semangat untuk langsung belajar keesokan harinya, belajar di perpustakaan pusat kampus dari pagi hingga malam dan aku lakukan selama beberapa hari sampai menjelang sidang selanjutnya. Aku tak punya waktu untuk lama-lama larut dalam kesedihan. Karena tiap hari kuhabiskan waktu untuk belajar, ada saja orang yang menghampiriku, tiba-tiba datang ke perpustakaan menemaniku belajar, atau sekedar mengajak makan. Manja? Hmm mungkin. Teman-teman angkatanku pun mengkhawatirkan keadaanku hingga menanyakan kabarku setelah kejadian itu. Beruntungnya aku dikelilingi oleh kalian, orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Kemudian, diadakanlah sidang ulang pada tanggal 25 September 2015. Kukorbankan Idul Adha tidak bersama keluarga untuk mempersiapkan sidang kedua tersebut. Kupasrahkan semua pada Allah karena aku sudah berusaha maksimal. Aku tidak mengerti mungkin karena aku anak fastrack dan baru pulang dari luar sehingga ekspektasi orang terhadapku lebih (padahal aku cuma remah-remah roti, hehe) aku harus bisa menjawab semua pertanyaan hingga ke dasar-dasarnya. Sidang kedua flow agak turun, yaa flow 4 lah seperti panggilan malam kalau osjur. Baru kali ini ngerasain sidang kaya diosjur tapi yang datang massanya cuma sendiri terus dikelilingi para sianida (tata disiplin), atau bak terdakwa yang mau ditembak mati, lebay haha. Walaupun flow hampir sama tapi kali ini berujung dengan diluluskannya aku dari program magister kimia yeaaayy. Di sidang kedua ini bahkan ada teman-temanku yang rela datang dari luar Bandung dan mengambil cuti (atau memang libur panjang yaa, haha) untuk memberikan dukungan kepadaku. Nah, di cerita aku ini, aku bukan mau menunjukkan betapa hebatnya aku bisa melalui sidang sampai 2 kali atau betapa menderitanya aku sampai-sampai tidak diluluskan, atau betapa bodohnya aku. Ingat! Di setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Begitu juga atas kejadian ini, aku dapat mengambil beberapa hikmah. Pertama, pasti jadi “agak” ahli di bidang yang diujikan saat sidang karena dipelajari sekian kali (dalam hal akademik). Kedua, merasa passion ku bukan di sini dan sudah cukup sampai jenjang magister saja, karena toh aku lebih tertarik dengan bidang lain. Dalam hal ini psikologi, karena sejak lama aku senang menganalisis tingkah laku orang-orang di sekitarku, senang mendengarkan cerita mereka, dan mencoba mencarikan solusi semampunya. Ketiga, jujur aku jadi tau siapa orang yang benar-benar menemani ketika dalam keadaan susah, yang tidak pergi meninggalkan, tapi melangkah untuk mendekat dan menghampiri untuk menghibur. Keempat, kita ini makhluk sosial yang harus berbuat baik kepada siapapun (ingat yaa siapapun!), karena tidak selamanya kita selalu berada di atas, ketika kita berada di bawah mereka akan mengajak kita kembali lagi untuk ke atas. Kelima, ketika sudah berada di atas nanti dan menjadi orang yang mungkin nasibnya akan ditentukan oleh kita, tidak patutlah kita berlaku semena-mena dan tetaplah rendah hati. Keenam, andaikan nanti jadi tenaga pendidik maka berlakulah seperti pendidik, tunjukkan etika sebagai pendidik, bersikap lebih dewasa dibanding dengan mahasiswa itu penting karena kalian sebagai pendidik akan disorot oleh jutaan mata mahasiswa Anda. Dan masih banyak hikmah yang dapat kuambil atas kejadian ini. Satu kejadian dapat kita tarik banyak hikmah, begitu baiknya Allah padaku. Inilah cara-Nya untuk mendidik dan menjadikanku pribadi yang lebih baik. Terakhir kuucapkan terimakasih kepada kakak-kakak dan teman-teman tersayang yang sudah menemaniku saat-saat itu. 🙂